Senin, 28 Mei 2012

GERAKAN SOSIAL


Definisi Gerakan Sosial
Gerakan sosial termasuk istilah baru dalam kamus ilmu-ilmu sosial. Meskipun demikian di lingkungan yang sudah modern seperti di Indonesia fenomena munculnya gerakan sosial bukanlah hal aneh. Misalnya ketika kenaikan tarif listrik sudah terlalu tinggi kemudian muncul nama seperti Komite Penurunan Tarif Listrik.Model-model aksi sosial seperti terjadi dalam kasus penggusuran tanah di Kedung Ombo atau lahan yang dijadikan lapangan golf sehingga melahirkan sejumlah aktivitas masyarakat yang berusaha menolak “pemaksaan” itu sudah menjadi bagian dari pemberitaan media massa.Presiden Soeharto saat menjadi presiden bahkan mencap mereka yang bertahan di Kedung Ombo yang dijadikan bendungan itu sebagai orang-orang PKI. Label ini telah mematahkan semua aksi perlawanan terhadap aparat pemerintah. Perlawanan atau desakan untuk mengadakan perubahan seperti itu dapat dikategorikan sebuah gerakan sosial.Beberapa gerakan sosial dan bahkan individu terlibat dalam usaha mendukung masyarakat Kedung Ombo yang disuruh transmigrasi tapi tetap ingin tinggal di kampung halamannya. Sikap gerakan masyarakat dan tokoh lembaga swadaya masyarakat itulah yang memberi warna pada munculnya gerakan perlawanan terhadap penguasa. Di sini jelas bahwa gerakan sosial memang lahir dari situasi yang dihadapi masyarakat karena adanya ketidakadilan dan sikap sewenang-wenang terhadap rakyat. Dengan kata lain gerakan sosial lahir sebagai reaksi terhadap sesuatu yang tidak diinginkannya atau menginginkan perubahan kebijakan karena dinilai tidak adil. Biasanya gerakan sosial seperti itu mengambil bentuk dalam aksi protes atau unjuk rasa di tempat kejadian atau di depan gedung dewan perwakilan rakyat atau gedung pemerintah.Namun demikian label kepada masyarakat Kedung Ombo yang membangkang terhadap pemerintah karena sikapnya yang tidak adil itu berakhir manakala era reformasi lahir akibat gerakan sosial lainnya. Setelah Mei 1998, gerakan sosial semakin marak dan ketidakadilan atau ketidakpuasan yang muncul jauh sebelum 1998 dibongkar untuk dicari penyelesaiannya. Situasi itu menunjukkan bahwa dimana sistem politik semakin terbuka dan demokratis maka peluang lahirnya gerakan sosial sangat terbuka. Berbagai gerakan sosial dalam bentuk LSM dan Ormas bahkan Parpol yang kemudian menjamur memberikan indikasi bahwa memang dalam suasana demokratis maka masyarakat memiliki banyak prakarsa untuk mengadakan perbaikan sistem atau struktur yang cacat.Dari kasus itu dapat kita ambil semacam kesimpulan sementara bahwa gerakan sosial merupakan sebuah gerakan yang lahir dari dan atas prakarsa masyarakat dalam usaha menuntut perubahan dalam institusi, kebijakan atau struktur pemerintah. Di sini terlihat tuntutan perubahan itu biasanya karena kebijakan pemerintah tidak sesuai lagi dengan konteks masyarakat yang ada atau kebijakan itu bertentangan dengan kehendak sebagian rakyat.Karena gerakan sosial itu lahir dari masyarakat maka kekurangan apapun di tubuh pemerintah menjadi sorotannya. Jika tuntutan itu tidak dipenuhi maka gerakan sosial yang sifatnya menuntut perubahan insitusi, pejabat atau kebijakan akan berakhir dengan terpenuhinya permintaan gerakan sosial. Sebaliknya jika gerakan sosial itu bernafaskan ideologi, maka tak terbatas pada perubahan institusional tapi lebih jauh dari itu yakni perubahan yang mendasar berupa perbaikan dalam pemikiran dan kebijakan dasar pemerintah. Namun dari literatur definisi tentang gerakan sosial ada pula yang mengartikan sebagai sebuah gerakan yang anti pemerintah dan juga pro pemerintah. Ini berarti tidak selalu gerakan sosial itu muncul dari masyarakat tapi bisa pula hasil rekayasa para pejabat pemerintah atau penguasa.Jika definisi digunakan maka gerakan sosial tidak terbatas pada sebuah gerakan yang lahir dari masyarakat yang menginginkan perubahan pemerintah tapi juga gerakan yang berusaha mempertahankan kemauannya. Jika ini memang ada maka betapa relatifnya makna gerakan sosial itu sebab tidak selalu mencerminkan sebuah gerakan murni dari masyarakat.
Gerakan Kelas dan Etnik
Dalam sejarah modern dikenal ada ada dua jenis gerakan sosial yakni gerakan kelas dan gerakan kelompok etnik. Contoh gerakan sosial adalah antara kelas menengah lawan kelas dan kaum bangsawan, kelas petani lawan tuan tanah, kelas pekerja lawan majikan, petani lawan tengkulak dan petty bourgeoisie (borjuis kecil) lawan pengusaha besar. Mungkin lebih luas lagi kelas miskin lawan kelas kaya.
Para pendukung gerakan kelas ini adalah mereka yang mendapatkan keuntungan ekonomi dan kemajuan sosio-ekonomi, merasa tereksploitasi dan secara politis tertekan. Beberapa gerakan, khususnya gerakan tandingan dan gerakan protes berasal dari kelas yang secara sosioekonomis mundur. Oleh sebab itulah, gerakan buruh Eropa mulai dari para pengrajin yang kehilangan kemerdekaan ekonomi dan pekerja terampil yang terwakili dalam ekonomi dan elit intelektual protelariat. Perbedaan harus dibuat antara gerakan petani dan gerakan petani besar (farmer). Yang pertama terjadi di masyarakat dimana tanah adalah properti kelas penguasa yang tidak selalu terlibat dalam pertanian namun menyewakan atau mendapatkan pendapatan uang tunai atau sejenisnya atau jasa dari petani. Tipe gerakan petani bertujuan menghapuskan kewajiban-kewajiban ini dan mengembalikan tanah ke pemilik sebenarnya. Ketika petani dan tuan tanah berasal dari kelas berbeda seperti terjadi di beberapa negara Amerika Latin dan negara jajahan, maka konflik itu menjadi tajam. Sebaliknya, gerakan petani modern khususnya terjadi dikalangan petani komersial di satu kawasan panen dimana kerawanan ekonomi hadir. Kecuali adanya petani garapan yang luas, masalah tanah tidak muncul. Isu yang muncul biasanya tentang harga, tingkat bunga dan pajak. Target utama juga adalah pedagang, kreditor dan pemerintah. Gerakan petani modern sebagai penguasa tidak mengembangkan ideologi yang rinci namun mengangkat tuntutan-tuntutan konkret sehingga lebih dekat dengan gerakan protes. Namun jika penderitaan mereka tidak bisa dihindari, bahkan petani modern menjadi terbuka terhadap gerakan ideologis radikal. Misalnya terjadi pada gerakan petani selama kebangkitan Nazisme. Gerakan petani mungkin melahirkan kekerasan. Ideologi mereka jika ada mungkin pada saat sama menganut tradisionalisme dan restoratif. Namun biasanya dalam wilayah tradisional kerusuhan petani , komunisme kontemporer mendapatkan dukungan luas khususnya di Eropa selatan dan Amerika Latin. Bisa mengatakan bahwa sebuah gerakan didukung kelas tertentu tidak berarti setiap anggota gerakan milik kelas tertentu atau setiap anggota kelas milik gerakan. Korelasi ini tak pernah sempurna. Beberapa gerakan direkrut terutama dari anggota yang tercabut akarnya atau anggota kelas tertentu yang teralienasi. (Misalnya, banyak dari anggota Nazi awalnya, termasuk Hitler, berasal dari kelas menengah-rendah). Sistem kepercayaan para pemimpin pendiri kelas dan petani modern sering merupakan anggota teralineasi kelas lainnya. Dalam hal ini tak bisa dilupakan pentingnya peran kaum intelektual dalam melahirkan para pemimpin gerakan revolusioner. Karena tidak memiliki akar dalam masyarakat, mereka gampang menerima keyakinan ideologis yang menjanjikan mereka sebuah masyarakat dimana mereka dapat menemukan status memuaskan. Istilah “gerakan kelompok etnik” digunakan untuk menjelaskan berbagai fenomena. Sejumlah gerakan etnik yang paling penting antara lain :
1. Gerakan kemerdekaan politik minoritas nasional dalam kekaisaran negara di Eropa.
2. Gerakan kemerdekaan pribumi di negara kolonial Asia-Afrika.
3. Gerakan persatuan nasional – misalnya, di Jerman dan Italia pada abad ke-19 dan gerakan Pan Arab dalam abad ke-20.
4. Gerakan nasionalitas untuk kesederajatan sipil dan kultural dalam negara yang etniknya heterogen. Misalnya Fleming di Belgia)dan untuk superioritas (seperti Finns di Finlandia).Sebagai penguasa gerakan-gerakan ini dipimpin dan didukung terutama oleh elit budaya dan ekonomi dan dalam sejmlah kasus elit militer yang memiliki kepentingan vital dalam meraih sasaran mereka.
Para pemimpin gerakan kemerdekaan saat ini di negara kolonial, dengan beberapa kekecualian kaum intelektual dan profesional, adalah “orang-orang marginal” yang tersentuh budaya dan pendidikan Barat.
Para pengikut mereka datang hanya dan bahkan yang pertama dari strata sosial rendah. Namun pada saat ini ebih luas lagi datang dari kelas berkembang pekerja kerah putih, pegawai negeri, perwira militer serta pengusaha kelas menengah dan besar yang lemah kaerna dominasi kekuasaan dan ekonomi Barat. Dukungan tambahan datang dari berbagai lapisan masyarakat seperti penambang, petani, buruh perkebunan dan pekerja lainnya yang bersentuhan dengan sistem ekonimi dan pemerintahan Barat serta mereka yang tercerabut akarnya pedesaan atau suku. Bahkan diantara masyarakat primitif di Pasifik selatan, gerakan berkembang yang sebagian diarahkan menuju kemerdekaan dari dominasi kulit putih. Gerakan negro di Amerika tidak memiliki hubungan pola khusus dengan gerakan kelompok entik kaerna kebanyakan orang Negro tidak beraspirasi kemerdekaan politik atau otonomi budaya namun integrasi kedalam masyarakat dan budaya Amerika. Karena Negro Amerika bukan minoritas nasional atau kelas sosial, gerakan mereka tak bertujuan untuk mengubah secara fundamental tatanan sosial namun realisasi hak-hak konstitusional. Namun tercapainya tujuan Negro tak hanya mengubah kebiasaan lokal dan regional namun juga sebagian dari tatanan hukum yang ada.
Strategi dan Taktik Gerakan Sosial
Dalam politik, perbedaan antara strategi dan taktik tak dapat dipisahkan dengan tajam seperti halnya dalam perang. Dalam masyarakat dimana kebebasan berpendapat hadir, adalah hal biasa gerakan sosial mengalami konflik dengan pemerintah mengenai taktik dan bukannya strategi. Khususnya terjadi manakala gerakan sosial itu terlibat “aksi langsung” seperti sabotase, pemogokan umum, boikot, aksi “duduk”, teror dan aksi kekerasan. Atau bahkan dalam persiapan serius kudeta. Perselisihan dalam sebuah gerakan sosial biasanya muncul dalam hal taktik. Misalnya masalah reformasi dan revolusi. Mereka bertikai bukan dalam soal strategi. Meskipun demikian ada perpecahan serius misalnya dalam strategi jangka panjang. Contoh, kontroversi Stalinist -Trotksyite. Bagi orang luar, sering sulit memutuskan apakah perubahan dalam kebijakan sebuah gerakan karena perubahan dalam tujuan akhir atau semata-mata manuver taktik. Aksi langsung biasanya tidak demokratik karena menyangkal kalangan oposisi peluang untuk berdiskusi sebuah isu, sering dilakukan saat aksi politik yang sah gagal. Dalam situasi ekstrim, gerakan akan berpuncak pada revolusi keras. Taktik dan strategi dalam gerakan soaial adalah saling tergantung dengan ideologi dan bentuk organisasi. Misalya, sebuah gerakan yang bertujuan revolusi perlu organisasi lebih otoritarian daripada organisasi yang percaya reformasi bertahap. Pilihan akan taktik serta bentuk organisasi sebagian tergantung terhadap sistem politik dimana gerakan sosial itu beroperasi. Sebagian lagi tergantung besarnya gerakan sosial dan pengaruhnya terhadap sistem politik. Oleh karena itulah, taktik sebuah gerakan sosial mungkin berubah sejalan dengan pertumbuhan. Mungkin mereka kurang revolusioner saat gerakan itu mendapatkan banyak pengaruh atau mungkin menjadi lebih agresif manakala peluang untuk berhasil membesar. Sebagian besar gerakan sosial beroperasi di masyarakat karena publisitas memberikan pengaruh dan menaikkan pendukung. Namun, kerahasiaan dilakukan saat situasi dimana hak-hak berkumpul, berdiskusi dan kebebasan beropini ditolak atau dimana anggota gerakan tertentu dilarang secara hukum dan diadili. Gerakan buruh pada tahap awalnya dipaksa untuk rahasia. Konsekuensinya, perpecahan gerakan yang besar menjadi banyak kelompok atau kelompok yang kurang agresif. Dalam dunia politik seperti halnya dalam militer dan bisnis, sukses muncul karena langkah inovator. Berkuasanya dan prestasi politik luar negeri kekuatan Fasis dan Nazi sebagian karena fakta bahwa mereka tidak bermain bukan dalam kerangka aturan sedangkan lawannya baik di dalam maupun di luar negeri memperkirakan akan mentaati aturan. Hal yang sama dapat dikatakan dengan sedikit modifikasi, mengenai gerakan komunis: seringnya perubahan taktik cenderung membingungkan musuhnya. Mao Zedong berhasil karena ia menyimpang dari strategi ortodoks Leninis. Revolusi radikal dan gerakan kontrarevolusi mampu melanggar “aturan main” karena anggotanya tiak dianggap pesaingnya sebagai bagian dari komunitas politik. Mereka mengkonsepkan semua hal berbau politik dalam pengertian hubungan sahabat-musuh., dimana tak ada aturan yang melarang. Hal ini bisa menjelaskan penggunaan teror sebelum dan sesudah perebutan kekuasaan dan pradoks bahwa orang-orang yang berniat menciptakan dunia yang lebih baik mampu mengorbankan jutaan manusia dalam prosesnya.
Perubahan Sosial dan Basis Sosial
Hipotesis besar dalam bidang ini adalah gerakan sosial merupakan produk dari perubahan sosial . Situasi muncul dimana hubungan yang sudah lama terjalin tidak lagi memadai. Hasilnya dari hubungan terhambat dari situasi lama dan baru ini menimbulkan ketidakpuasan. Salah satu tugas sosiolog adalah menganalisa sebuah gerakan untuk mengidentifikasi ketidakpuasan dan melihat hubungannya dengan gerakan. Misalnya, sebuah gerakan yang bertujuan menegakkan bahasan resmi Norwegia di pedesaan sebagai bahasa resmi Norwegia diperlihatkan sebagai produk chauvinisme budaya dengan petani merespon terhadap aliran lembaga dan pribadi urban di propinsi.
Basis-basis sosial gerakan
Seperti halnya perubahan yang jarang sama di sebuah masyarakat, demikian pula geraka sosial biasanya mengajak beberapa segmen masyarakat. Dengan kata lain, geraan memiliki lokasi dalam struktur sosial. Misalnya, gerakan kemerdekaan India memiliki daya tarik khusus untuk kaum profesional India yang saat itu menjadi sebuah kelas terdiri dari kaum profesional meskipun mereka diberi pendidikan Inggris. Gerakan Poujadist di Perancis menarik pengusaha kecil dan petani. Kaum Metodis dalam tahap-tahap awalnya memiliki daya tarik bagi pekerja kelas Inggris. Gerakan spesifik tentu saja mengajak lebih dari satu segmen sosial dan budaya. Analisa gerakan biasanya melibatkan pertimbangan masalah-masalah yang ada dalam usaha menyatukan kelompok sosial yang berbeda-berbeda dalam satu asosiasi. Dengan demikian, seperti diperlihatkan gerakan sosial Amerika biasanya terlibat dalam pertikaian yang muncul karena kenaekaragaman radikalisme pedesaan Amerika dengan radkilamisme perkotaan seperti imigran dan pekerja. Radikalisme Amerika pribumi adalah populis dan anti industri sedakan radikalisme urban adalah kelas pekerja yang mengusahakan industrialisasi.
Deprivasi relatif dan perubahan sosial
Tidak ada hubungan garis tunggal antara pengalaman sebuah kelompok dan perkembangan gerakan terhadap perubahan. Prinsip relative deprivation dapat menjelaskan hubungan persepsi perampasan (deprivation) atau (persepsi ancaman) dan ekspresi dan organisasi ketidakpuasan. Riset menunjukkan situasi absolut sebuahkelompok bukanlah instrumen yang membentuk dan memfokuskan ketidakpuasan persepsi apa yang adil, diharapkan dan mungkin. Revolusi mungkin dan sering muncul setelah revolusi segmen masyarakat telah memperbaiki posisi ekonomir mereka. Karena harapan kelompok meningkat, situasi baru mungkin dialami lebih menekan daripada sebelumnya. Dalam beberapa kasus, kecemasan akan kehilangan keuntungan baru meningkatkan kerusuhan. Lebih jauh lagi, kehilangan status mungkin berpengaruh dalam membentuk gerakan yang bertujuan pemulihan. Ini adalah salah satu faktor dalam perkembangan serikat buruh Inggris. Awal industrialisasi mengancam menghapus garis antara pengrajin dan pekerja terampil sehingga mengancam posisi pekerja terampil.
Aspek struktural
Pendukung potensial gerakan sosial harus dikaji dari berbagai pandangan keterampilan dan peluang mereka untuk pengembanga aksi kolektif. Perubahan sosial mungkin membentuk gerakan melalui perubahan kultural seperti peningkatan kapasitas kelompok untuk tugas-tugas komunikasi, kepemimpinan dan organisasi. Misalnya, pendidikan kolonial bertindak sebagai dasar pelatihan serta bibit ketidakpuasan untuk gerakan nasionalis antikolonial.
Isi ideologi
Keyakinan gerakan sosial manapun mencerminkan situasi unik segmen sosial yang membuat gerakan itu. Keyakinan-keyakinan ini menjadi paradigma pengalaman dimana ideologi dan program gerakan mungkin benar, adil dan memadai untuk segmen terentu. Hal itu disebabkan telah melalui pengalaman yang dapat membuatnya ideologi tampak relevan dan valid. Ini benar meskipun ideologi mungkin tersusun dalam pernyataan umum. Sebagai contoh, gerakan amandemen konstitusi AS yang melarang diskriminasi seks telah dinyatakan retorika hak-hak sederajat untuk semua wanita. Amandemen disponsori oleh kelas atas wanita yang akan mendapat keuntungan dari kesejajaran dengan suaminya dalam hak-hak properti dan ditentang kelas pekerja wanita yang mencapai perlindungan tertentu dan keuntungan dalam tunjangan berdasarkan UU yang membatasi jam kerjanya. Dalam kasus ini retorika “hak-hak sederajat” memiliki arti berbeda bagi wanita kelas pekerja daripada wanita kelas atas.
Fungsi Gerakan Sosial
Perubahan-perubahan besar dalam tatanan sosial di dunia yang muncul dalam dua abad terakhir sebagian besar secara langsung atau tak langsung hasil dari gerakan-gerakan sosial. Meskipun misalnya gerakan sosial itu tidak mencapai tujuannya, sebagian dari programnya diterima dan digabungkan kedalam tatanan sosial yang sudah berubah. Inilah fungsi utama atau yang manifest dari gerakan-gerakan sosial. Saat gerakan sosial tumbuh, fungsi-fungsi sekunder atau “laten” dapat dilihat sebagai berikut:
1. Gerakan Sosial memberikan sumbangsih kedalam pembentukan opini publik dengan memberikan diskusi-diskusi masalah sosial dan politik dan melalui penggabungan sejumlah gagasan-gagasan gerakan kedalam opini publik yang dominan.
2. Gerakan Sosial memberikan pelatihan para pemimpin yang aka menjadi bagian dari elit politik dan mungkin meningkatkan posisinya menjadi negarawan penting.Gerakan-gerakan burush sosialis dan kemerdekaan nasional menghasilkan banyakpemimpin yang sekarang memimpin negaranya. Para pemimpin buruh dan gerakan lainnya bahkan sekalipun mereka tidak memegang jabatan pemerintah juga menjadi elit politik di banyak negara. Kenyataan ini banyak diakui oleh sejumlah kepala pemerintahan yang memberikan penghargaan kepada para pemimpin gerakan sosial dan berkonsultasi dengan mereka dalam isu-isu politik. Saat dua fungsi ini mencapai titik dimana gerakan sesudah mengubah atau memodifikasi tatanan sosial, menjadi bagian dari tatanan itu maka siklus hidup gerakan sosial akan berakhir karena melembaga. Ini adalah benar jika gerakan revolusioner meraih kemenangan seperti terlihat di Uni Soviet dan Cina. Gerakan komunisme tak lagi disebut sebuah gerakan namun mengalami transformasi menjadi sebuah rejim. Hal itu juga terjadi seperti pada gerakan buruh sosialis dan gerakan petani di negara maju Eropa utara dan barat dan di AS serta di daerah jajahan Inggris. Sementara itu negara dimana reformasi sosial dan ekonomi mendesak telah tertunda-tunda atau dicegah maka menjadi bibit tumbuhnya gerakan-gerakan sosialis dan komunis revolusioner.

Senin, 23 April 2012

SEJARAH POLITIK

SEJARAH SISTEM POLITIK INDONESIA
Materi Perkuliahan Sistem Politik Indonesia
Tanggal 28 Maret 2006
Oleh Uwes Fatoni, M.Ag
Sejarah Sistem Politik Indonesia bisa dilihat dari proses politik yang terjadi di dalamnya. Namun dalam menguraikannya tidak cukup sekedar melihat sejarah Bangsa Indonesia tapi diperlukan analisis sistem agar lebih efektif. Dalam proses politik biasanya di dalamnya terdapat interaksi fungsional yaitu proses aliran yang berputar menjaga eksistensinya. Sistem politik merupakan sistem yang terbuka, karena sistem ini dikelilingi oleh lingkungan yang memiliki tantangan dan tekanan.
Dalam melakukan analisis sistem bisa dengan pendekatan satu segi pandangan saja seperti dari sistem kepartaian, tetapi juga tidak bisa dilihat dari pendekatan tradisional dengan melakukan proyeksi sejarah yang hanya berupa pemotretan sekilas. Pendekatan yang harus dilakukan dengan pendekatan integratif yaitu pendekatan sistem, pelaku-saranan-tujuan dan pengambilan keputusan
Proses politik mengisyaratkan harus adanya kapabilitas sistem. Kapabilitas sistem adalah kemampuan sistem untuk menghadapi kenyataan dan tantangan. Pandangan mengenai keberhasilan dalam menghadapi tantangan ini berbeda diantara para pakar politik. Ahli politik zaman klasik seperti Aristoteles dan Plato dan diikuti oleh teoritisi liberal abad ke-18 dan 19 melihat prestasi politik dikuru dari sudut moral. Sedangkan pada masa modern sekarang ahli politik melihatnya dari tingkat prestasi (performance level) yaitu seberapa besar pengaruh lingkungan dalam masyarakat, lingkungan luar masyarakat dan lingkungan internasional.
Pengaruh ini akan memunculkan perubahan politik. Adapun pelaku perubahan politik bisa dari elit politik, atau dari kelompok infrastruktur politik dan dari lingkungan internasional.
Perubahan ini besaran maupun isi aliran berupa input dan output. Proes mengkonversi input menjadi output dilakukan oleh penjaga gawang (gatekeeper).
Terdapat 5 kapabilitas yang menjadi penilaian prestasi sebuah sistem politik :
1. Kapabilitas Ekstraktif, yaitu kemampuan Sumber daya alam dan sumber daya manusia. Kemampuan SDA biasanya masih bersifat potensial sampai kemudian digunakan secara maksimal oleh pemerintah. Seperti pengelolaan minyak tanah, pertambangan yang ketika datang para penanam modal domestik itu akan memberikan pemasukan bagi pemerintah berupa pajak. Pajak inilah yang kemudian menghidupkan negara.
2. Kapabilitas Distributif. SDA yang dimiliki oleh masyarakat dan negara diolah sedemikian rupa untuk dapat didistribusikan secara merata, misalkan seperti sembako yang diharuskan dapat merata distribusinya keseluruh masyarakat. Demikian pula dengan pajak sebagai pemasukan negara itu harus kembali didistribusikan dari pemerintah pusat ke pemerintah daerah.
3. Kapabilitas Regulatif (pengaturan). Dalam menyelenggaran pengawasan tingkah laku individu dan kelompok maka dibutuhkan adanya pengaturan. Regulasi individu sering memunculkan benturan pendapat. Seperti ketika pemerintah membutuhkan maka kemudian regulasi diperketat, hal ini mengakibatkan keterlibatan masyarakat terkekang.
4. kapabilitas simbolik, artinya kemampuan pemerintah dalam berkreasi dan secara selektif membuat kebijakan yang akan diterima oleh rakyat. Semakin diterima kebijakan yang dibuat pemerintah maka semakin baik kapabilitas simbolik sistem.
5. kapabilitas responsif, dalam proses politik terdapat hubungan antara input dan output, output berupa kebijakan pemerintah sejauh mana dipengaruhi oleh masukan atau adanya partisipasi masyarakat sebagai inputnya akan menjadi ukuran kapabilitas responsif.
6. kapabilitas dalam negeri dan internasional. Sebuah negara tidak bisa sendirian hidup dalam dunia yang mengglobal saat ini, bahkan sekarang banyak negara yang memiliki kapabilitas ekstraktif berupa perdagangan internasional. Minimal dalam kapabilitas internasional ini negara kaya atau berkuasa (superpower) memberikan hibah (grants) dan pinjaman (loan) kepada negara-negara berkembang.
Ada satu pendekatan lagi yang dibutuhkan dalam melihat proses politik yaitu pendekatan pembangunan, yang terdiri dari 2 hal:
a. Pembangunan politik masyarakat berupa mobilisasi, partisipasi atau pertengahan. Gaya agregasi kepentingan masyarakat ini bisa dilakukans ecara tawaran pragmatik seperti yang digunakan di AS atau pengejaran nilai yang absolut seperti di Uni Sovyet atau tradisionalistik.
b. Pembangunan politik pemerintah berupa stabilitas politik
PROSES POLITIK DI INDONESIA
Sejarah Sistem politik Indonesia dilihat dari proses politiknya bisa dilihat dari masa-masa berikut ini:
- Masa prakolonial
- Masa kolonial (penjajahan)
- Masa Demokrasi Liberal
- Masa Demokrasi terpimpin
- Masa Demokrasi Pancasila
- Masa Reformasi
Masing-masing masa tersebut kemudian dianalisis secara sistematis dari aspek :
· Penyaluran tuntutan
· Pemeliharaan nilai
· Kapabilitas
· Integrasi vertikal
· Integrasi horizontal
· Gaya politik
· Kepemimpinan
· Partisipasi massa
· Keterlibatan militer
· Aparat negara
· Stabilitas
Bila diuraikan kembali maka diperoleh analisis sebagai berikut :
1. Masa prakolonial (Kerajaan)
· Penyaluran tuntutan – rendah dan terpenuhi
· Pemeliharaan nilai – disesuikan dengan penguasa atau pemenang peperangan
· Kapabilitas – SDA melimpah
· Integrasi vertikal – atas bawah
· Integrasi horizontal – nampak hanya sesama penguasa kerajaan
· Gaya politik - kerajaan
· Kepemimpinan – raja, pangeran dan keluarga kerajaan
· Partisipasi massa – sangat rendah
· Keterlibatan militer – sangat kuat karena berkaitan dengan perang
· Aparat negara – loyal kepada kerajaan dan raja yang memerintah
· Stabilitas – stabil dimasa aman dan instabil dimasa perang
2. Masa kolonial (penjajahan)
· Penyaluran tuntutan – rendah dan tidak terpenuhi
· Pemeliharaan nilai – sering terjadi pelanggaran ham
· Kapabilitas – melimpah tapi dikeruk bagi kepentingan penjajah
· Integrasi vertikal – atas bawah tidak harmonis
· Integrasi horizontal – harmonis dengan sesama penjajah atau elit pribumi
· Gaya politik – penjajahan, politik belah bambu (memecah belah)
· Kepemimpinan – dari penjajah dan elit pribumi yang diperalat
· Partisipasi massa – sangat rendah bahkan tidak ada
· Keterlibatan militer – sangat besar
· Aparat negara – loyal kepada penjajah
· Stabilitas – stabil tapi dalam kondisi mudah pecah
3. Masa Demokrasi Liberal
· Penyaluran tuntutan – tinggi tapi sistem belum memadani
· Pemeliharaan nilai – penghargaan HAM tinggi
· Kapabilitas – baru sebagian yang dipergunakan, kebanyakan masih potensial
· Integrasi vertikal – dua arah, atas bawah dan bawah atas
· Integrasi horizontal- disintegrasi, muncul solidarity makers dan administrator
· Gaya politik - ideologis
· Kepemimpinan – angkatan sumpah pemuda tahun 1928
· Partisipasi massa – sangat tinggi, bahkan muncul kudeta
· Keterlibatan militer – militer dikuasai oleh sipil
· Aparat negara – loyak kepada kepentingan kelompok atau partai
· Stabilitas - instabilitas
4. Masa Demokrasi terpimpin
· Penyaluran tuntutan – tinggi tapi tidak tersalurkan karena adanya Front nas
· Pemeliharaan nilai – Penghormatan HAM rendah
· Kapabilitas – abstrak, distributif dan simbolik, ekonomi tidak maju
· Integrasi vertikal – atas bawah
· Integrasi horizontal – berperan solidarity makers,
· Gaya politik – ideolog, nasakom
· Kepemimpinan – tokoh kharismatik dan paternalistik
· Partisipasi massa - dibatasi
· Keterlibatan militer – militer masuk ke pemerintahan
· Aparat negara – loyal kepada negara
· Stabilitas - stabil
5. Masa Demokrasi Pancasila
· Penyaluran tuntutan – awalnya seimbang kemudian tidak terpenuhi karena fusi
· Pemeliharaan nilai – terjadi Pelanggaran HAM tapi ada pengakuan HAM
· Kapabilitas – sistem terbuka
· Integrasi vertikal – atas bawah
· Integrasi horizontal - nampak
· Gaya politik – intelek, pragmatik, konsep pembangunan
· Kepemimpinan – teknokrat dan ABRI
· Partisipasi massa – awalnya bebas terbatas, kemudian lebih banyak dibatasi
· Keterlibatan militer – merajalela dengan konsep dwifungsi ABRI
· Aparat negara – loyal kepada pemerintah (Golkar)
· Stabilitas stabil
6. Masa Reformasi
· Penyaluran tuntutan – tinggi dan terpenuhi
· Pemeliharaan nilai – Penghormatan HAM tinggi
· Kapabilitas –disesuaikan dengan Otonomi daerah
· Integrasi vertikal – dua arah, atas bawah dan bawah atas
· Integrasi horizontal – nampak, muncul kebebasan (euforia)
· Gaya politik - pragmatik
· Kepemimpinan – sipil, purnawiranan, politisi
· Partisipasi massa - tinggi
· Keterlibatan militer - dibatasi
· Aparat negara – harus loyal kepada negara bukan pemerintah
· Stabilitas - instabil

Selasa, 17 April 2012

KOLEKSI ARKEOLOG

Koleksi Arkeologi


NEKARA DAN MOKO

Sebagai sarana upacara minta hujan.
Asal : Tuban . Moko, asal : Pulau Alor
Nekara ini termasuk type Heger I.
Biasanya diatas nekara diberi hiasan katak, menurut kepercayaan katak dianggap sebagai binatang yang dapat mendatangkan hujan.

HASIL BUDAYA PADA MASA PERUNDAGIAN

Sebagai peralatan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Masa perundagian ditandai dengan adanya ketrampilan membuat alat-alat dari perunggu. Alat tersebut dipakai untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari terutama untuk bertani, berburu dan peralatan untuk upacara.
  1. Kapak sepatu / kapak corong asal Tuban
  2. Ujung tombak asal Tuban
  3. Candrarasa asal Tuban

BENDA-BENDA BEKAL KUBUR

  1. Manik-manik asal Tuban
  2. Manik-manik asal Bodowoso
  3. Manik-manik asal Situbondo
  4. Manik-manik asal Pacitan
Manik-manik tersebut sebagai sarana perlengkapan yang diikut sertakan dalam penguburan, benda berharga tersebut selain dipakai perhiasan juga dipakai bekal kubur. Benda semacam ini mulai ada sejak masa bercocok tanam yang pada saat itu juga berkembang kebudayaan Megalithicum/batu-batu seperti dolmen, kubur batu, dan sebagainya.

SURYA STAMBHA

Asal:Nusa Tenggara Timur
Bahan:Perunggu
Fungsi :Sarana Upacara

PRASASTI ADAN-ADAN

AsalMayangrejo, Kec Kalitidu, Kab. Bajonegoro
PenemuBapak Mardjuki, pada tanggal 2 Maret 1992
BahanTembaga
TulisanJawa Kuno
BahasaJawa Kuno
Jumlah17 lempeng

Angka tahun1223 Caka/ 1301 Masehi
HariSabtu pasaran Legi
Nama rajaKertarajasa Jayawardhana
Nama PermaisuriSri Bhuwaneswari, Sri Rajendradewi, Prajnyaparamita
Nama Pejabat TinggiRakyan Hino, Rakyan Sirikan, Rakyan Mantri Halun

Isi menyebutkan tentang:
  1. Pembebasan tanah di adan-adan dari kewajiban membayar pajak
  2. Mengangkat desa adan-adan berstatus sebagai Sima/Perdikan/Swatantra
  3. Diberikannya daerah adan-adan kepada seorang pendeta raja karena telah berbakti kepada raja Kertarajasa, mengikuti segala penderitaan raja yaitu memakai pakaian kulit kayu, bertingkah susila, taat menjalankan ibadah agama
  4. Batas desa adan-adan, yaitu Tinawun, Kawangan, Jajar, Tambar, Punten, Rakamang, Kebogede, Paran, Panjer, Sanda
  5. Kutukan dari Raja kepada siapa saja yang berani melawan atau merubah keputusan Raja, seperti yang disebutkan dalam prasasti ini.

PRASASTI

Prasasti adalah salah satu sumber penulisan sejarah, berisi peristiwa-peristiwa penting dibidang agama, pemerintahan atau sosial ekonomi. Bahan untuk menulis prasasti bermacam-macam, diantaranya : batu, kayu, logam (emas, tembaga, perak) dsb.
  1. Prasasti Sukun asal Malang
  2. Prasasti Kalimusan asal Malang
  3. Prasasti Bali (dari Stedelijk Historisch Museum Surabaya)
  4. Prasasti ukir Negara asal Wlingi - Blitar
  5. Prasasti Lamongan asal Lamongan
  6. Prasasti Loceret asal Nganjuk

ALAT-ALAT UPACARA

Alat-alat upacara yang digunakan oleh para pemeluk Agama Hindu ini, berhubungan dengan upacara daur hidup. Dalam kehidupan manusia peristiwa lahir hingga mati, banyak peristiwa penting yang perlu diperingati dengan upacara-upacara khusus atau disyahkan melalui kegiatan upacara sesuai ketentuan yang ditetapkan oleh agama yang dianutnya. Untuk mendukung kegiatan upacara itulah diciptakan alat-alat khusus yang beraneka macam bentuk maupun bahannya, dan biasanya dikaitkan dengan makna-makna tertentu. Lewat upacara manusia dituntut untuk berhubungan dengan Sang Pencipta. Dengan melibatkan unsur-unsur alam seperti : angin, suara, tanah, air dan lain sebagainya, diciptakan suasana yang berbeda dengan keadaan sehari-hari. Oleh karena itu tidak mengherankan bila banyak ditemukan alat-alat upacara, seperti genta, tempat air suci, tempat abu ataupun tempat pripih (benda milik raja yang ditanam sebagai simbul raja tersebut setelah meninggal dunia)

MACAM KOLEKSI

  1. Guci Amerta
  2. Guci Amerta
  3. Genta Pendeta
  4. Genta gantung
  5. Tempat abu jenasah
  6. Tempat pripih
  7. Kendi Tirta Kamandalu

STUPIKA, RELIEF BUDHA, TABLET/MATERAI DAN BEKAL KUBUR

Didaerah Jawa Timur, Stupika diketemukan di Gumuk Klinting Banyuwangi dan Pulai Bawean. Benda cagar budaya yang diperkirakan berasal dari abad ke IX ini, merupakan alat upacara (bekal kubur) bagi pemeluk agama Budha. Didalam stupika terdapat benda semacam Tablet yang bertulis huruf Jawa Kuno, berisi mantra Budhis, dibuat dari bahan tanah liat.Stupika yang ditemukan di pulau Bawean terlihat agak kemerah- merahan (mungkin dibuat dari tanah merah atau dibakar). Penemuan stupika di Gumuk Klinting, Banyuwangi, disetai benda temuan lain berupa Relief Budha, material/Tablet, rambut, lempengan emas dan manik-manik, diduga sebagai bekal kubur.

MACAM-MACAM KOLEKSI

  1. Stupika (Pulau Bawean)
  2. Relief Budha (Gumuk Klinting Banyuwangi)
  3. Relief Budha (Pulau Bawean)
  4. Stupika (Gumuk Klinting Banyuwangi)
  5. Lempengan Emas (Gumuk Klinting Banyuwangi)
  6. Tablet/Materai (Gumuk Klinting Banyuwangi)
  7. Manik-manik (Gumuk Klinting Banyuwangi)

PATUNG PERUNGGU

AsalDesa Kunti, Kec. Bungkal, Pororogo
PenemuParmin pada tanggal 21-8-1992
BahanPerunggu
SifatBudha Tantrayana
Patung perunggu sejumlah 69 buah dan beberapa bagian yang rusak, ditemukan di satu tempat di Desa Kunti, Kec. Bungkal, Kab. Ponorogo. Beberapa patung perunggu yang bersifat Budha Tantrayana ini terdiri dari bermacam- macam bentuk dan sikap, yaitu :
  1. 19 buah berupa patung Dhyanibudha
  2. 13 buah patung Dhyanibodhisattwa
  3. 3 buah patung Kuwera
  4. 32 buah patung dewi Tara
  5. 1 buah patung Dewa Surya
  6. 1 buah berupa Asana/tempat duduk
  7. Beberapa bagian yang berupa pecahan yang belum diketahui secara pasti; baik nama maupun sikapnya.
Suatu hal benatik dari temuan patung di Ponorogo ini adalah, bahwa beberapa diantaranya mempunyai keistemewaan terutama patung yang bersama berbentuk segi empat didalam terdapat gulungan lempengan emas yang tertulisnya huruf jawa kuno, bahasa jawa kuno, berisi mantra Budhis. Dari bentuk tulisannya, diduga berasal dari abad ke X/XI Masehi. Didalam panteon Budha Vajradha Tumandala, dikenal adanya Budha tertinggi yang disebut Adhi Budha. Adhi Budha menjelma dalam wujud Dhyanibudha yang tetap tinggal di surga; bertugas mengawasai ajaran Budha (Dhyani = samadi, budha = tanpa) berhubungan dengan manusia. Adhi budha tercermin dalam manusia Budha (budha manusia). Apabila manusia Budha telah meninggal dunia, maka kelangsungan tugasnya diwakilkan kepas Dhyani Bodhisattwa (Bodhi = pancaran, satwa = sifat), yaitu semacam dewa yang dapat melakukan tugas perwakilan Dhyanibudha hingga akhir dunia. Dari temuan ini terbukti bahwa pengaruh Budha Trantrayana telah masuk di Jawa Timur semenjak awal perpindahan pusat pemerintah dari Jawa tengah ke Jawa timur, yaitu sekitar abad ke X. Budha Tantrayana berkembang sangat pesat di Jawa Timur terutama jaman pemerintahan Raja Kertanegara (Singosari) yang dikenal dengan “Kala Cakra Budhisme untuk menghadapi Raja Kubilai Khan dari Cina. Patung perunggu temuan dari Ponorogo :
Vitrin IX
  • 3 Kuwera
  • 5 Manjusri

    ALAT-ALAT PADA MASA BERCOCOK TANAM

    Pada masa bercocok tanam, masyarakat hidup bertani untuk mengerjakan sawah, mereka menggunakan alat terutam jenis beliung persegi dan kapak lonjong. Untuk berburu menggunakan alat berupa cundrik tulang, sedangkan untuk mencari kayu menggunakan alat berupa kapak tangkai.

    MACAM KOLEKSI

    1. Kapak tangkai
    2. Kapak lonjong
    3. Cundrik Tulang
    4. Beliung persegi

    ALAT-ALAT JAMAN PRASEJARAH DARI PACITAN

    Alat kerja jaman Prasejarah ini digunakan pada masa berburu dan mengumpulkan makan tinfkat sederhana. Jenis kapak berimbas mempunyai multi fungsi, selain alat untuk mencari ubi juga untuk berburu. Dalam kegiatan berburu, terutama mulai pada masa berburu dan mengumpulkan makanan tingkat lanjut manusia juga menciptakan ujung anak panah dari batu.

    MACAM KOLEKSI

    1. Kapak Perimbas
    2. Kapak penetak
    3. Bahan beliung persegi
    4. Ujung anak panah
    5. Beliung Persegi
  • 8 Dhyani Budha Ratnasambawa
  • 1 Dhyani Budha Wairocana
  • 7 Dhyani Budha Amoghasidi
  • 4 Dhyani Budha Bodhisattwa
  • 6 Dhyani Budha Budha Aksobhya
  • 2 Dhyani Budha Amitabha

  • ARKEOLOG

    Pra-Sejarah

    Indonesia Jaman Pra-Sejarah
    Belum ada apa yang disebut dengan wilayah Indonesia pada periode-periode geologi Palaeocene (70 juta tahun SM), periode Eosen (30 juta tahun SM), periode Oligacene (25 juta tahun SM) dan periode Miocene (12 juta tahun SM). Pendapat yang banyak diyakini adalah cikal bakal kepulauan Indonesia sudah terbentuk pada periode Pleistocene (4 juta tahun SM). Namun daratan ini masih mneyatu dengan benua Asia. Diyakini pula bahwa sudah ada tanda-tanda kemunculan Homonids (species yang dipercaya sebagai cikal bakal manusia) yang mendiami daerah ini. Pada perkembangannya pada masa ini di bagian daratan yang sekarang disebut Indonesia muncul species yang terkenal dengan sebutan “Manusia Jawa”. Mahluk yang masih berspecies Pithecanthropus Erectus ini ditemukan fosilnya di Pacitan – Jawa Tengan, dan merekalah yang dipercaya saat in sebagai penduduk Indonesia pertama.
    Pada akhir masa Pleistocene bentuk rupa bumi mengalami perubahan karena mencairnya lapisan es di daerah kutub yang mengakibatkan naiknya permukaan laut di seluruh bagian dunia. Banyak daratan yang tergenang, selanjutnya menjadi laut dan dartan yang tidak tergenang menjadi pulau. Pada saat inilah apa yang disebut Kepulauan Indonesia sekarang terbentuk. Perubahan luas daratan memicu pula pemindahan penghuni-penghuni yang bermukim diatasnya.
    Pada periode kira-kira tahun 3000 SM — 500 SM di wilayah Indonesia sudah dihuni bukan saja oleh penduduk asli tetapi juga sudah ada pendatang Sub-Mongoloid dari Asia dan Indo-Arian dari sub-benua Asia Selatan. Dipercaya bahwa mereka semua akhirnya bercampur baur dan menurunkan keturunan-keturunan seperti apa yang menghuni wilayah Nusantara sekarang.
    Pergerakan dan migrasi yang penting adalah ketika para migran India, terutama yang dari Gujarat, India Tenggara, masuk ke wilayah Indonesia. Ini terjadi pada awal-awal abad Masehi.
    Kontak dan interaksi ini memunculkan pengenalan tulisan pada penduduk Indonesia. Aksara Pallawa dan bahasa Sanskerta yang dibawa oleh para pendatang dari India ini mulai digunakan di Indonesia (bagian barat) dan terus berkembang sampai memunculkan tulisan dan bahasa Kawi atau Jawa Kuno. Hal ini terlihat pada aksara dan bahawa yang digunakan pada prasasti-prasasti yang ditemukan di Kalimantan, Jawa Sumatra dan Pulau-pulau lain.
    Hubungan awal antara penduduk Indonesia dan India (bagian Selatan) yang berawal dari perdagangan  berkembang lebih jauh lagi. India yang berkebudayaan lebih maju pada saat itu  mendominasi pertukaran pengaruh. Kepercayaan dan agama Hindu mulai berkembang di Indonesia, bentuk kerjaan mulai terbentuk di Indonesia dan banyak perilaku hidup orang India  diadopsi oleh seluruh lapisan masyarakat terutama di Pulau Jawa dan Indonesia bagian barat.

    Rabu, 11 April 2012

    CERITA SEDIKIT SEJARAH MALINGPING (LEBAK)

    Ena Mustari
    Saya lahir di sebuah perkampungan yang bernama kampung pasirgeleng kecamatan malingping kabupaten lebak provinsi banten. Saya lahir pada tanggal 5 juli 1991. Saya di besarkan oleh ke dua orang tua saya.saya anak ke-2 dari tiga bersaudara. Di daerah saya pada masa jajahan BELANDA daerah saya di jadikan tempat persembunyian para kolonial belanda,dan mereka sempat membangun sebuah benteng di mana benteng itu tidak hanya di jadikan tempt persembunyian kolonial BELANDA,tetapi juga di jadikan tempat penyimpanan senjata api. Dan sampai sekarangpun benteng itu masih kokoh berdiri, dan konon katanya di dalam benteng tersebut masih tersimpan sebagian senjata api yang dulu pernah di gunakan oleh para kolonial BELANDA.
    Memang benteng itu tidak banyak di kenal oleh kalangan masyarakat lain dan oleh peneliti_peneliti sejarahwan.karena letaknya berada di perkampungan yang jauh dari pandangan masyarkat INDONESIA . Sehingga,masyarakat lain menganggap bangunan itu hanya bangunan biasa  padahal memiliki arti sejarah bagi masyarakat malingping itu sendiri.
    Pada jaman  penjajahan kolonial BELANDA pun di daerah kecamatan malingping sebagian masyarkatnya di jadikan romusa (kerja paksa),di mana masyarkat malingping di jadikan romusa untuk memenuhi kebutuhan para kolonial BELANDA. Yang pada masa itu sebagian masyarkat malingping di perbudak oleh para kolonial BELANDA.
    Para kolonial BELANDA itu menjadikan sebagian masyarkat malingping untuk bercocok tanam di mana di daerah malingping tersebut kaya akan tanah yang subur sehingga cocok untuk di jadikan lahan bercocok tanam. setelah bebas dari pejajahan kolonial belada masyarakat malingping  memenuhi kebutuhan sehari-harinya dengan bercocok tanam,dan sampai sekarangpun mereka masih mengandalkan keahlian mereka dengan bercocok tanam sebagai mata pencaharian mereka.dan tidak hanya itu,mereka juga memenuhi kebutuhanny dengan cara bernelayan. Dan sekarang,masyarakat malingping lebih makmur dan sejahtera di bandingkan di masa penjajahan belanda.
    Di daerah malingping pun terkenal dengan makanan khasnya,yaitu yang sering disebut oleh masyarakat malingping dengan nama LEMENG. Makan itu juga sudah terkenal oleh kalangan masyarakat di luar kecamatan malingping.karna makanan itu memiliki ciri khas tersendiri. Tidak hanya terkenal dengan makanan khasnya,malingping juga memiliki tempat pariwisata.tempat itu sering di sebut dengan PANTAI BAGEDUR. Tempat itu sering di kunjungi oleh wisata-wisatawan di luar kecamatan malingping dan turis lokal pun sering berkunjung ketempat itu.dan tempat itu sering di kunjungi pada hari-hari libur sekolah ataupun pada hari raya idul fitri. Tempat itu juga tidak hanya di jadikan tempat wisata,tapi tempat itu juga sering di gunakan para nenalayan untuk mencari ikan untuk kebutuhan sehari-hari mereka.
    Begitulah keadaan kecamatan malingping,pada masa penjajahan dan sampai sekarang.mulai dari mereka di jadikan budak oleh para kolonia belanda sampai akhirnya mereka bisa terbebas dari itu semua.dan akhirnya mereka menjadi masyarakat makmur dan sejahtera.